FAQ

Home FAQ

Semua transaksi yang dilakukan di bank syariah harus berdasarkan akad yang dibenarkan oleh Syariah Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist dan telah difatwakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), seperti akad al-mudharabah (bagi hasil), al-musyarakah (perkongsian), al-musaqat (kerja sama tani), al-ba’i (bagi hasil), al-ijarah (sewa-menyewa), dan al-wakalah (keagenan). Sedangkan untuk bank konvensional, surat penjanjian dibuat berdasarkan hukum positif yang sedang berlaku di Indonesia.

Bank syariah mengunakan pendekatan bagi hasil (al-mudharabah) untuk mendapatkan keuntungan, sementara bank konvensional justru mengunakan konsep biaya bunga untuk menghitung keuntungan. Pada Bank konvensional keuntungan yang didapat adalah selisih bunga antara bunga yang diberikan kepada nasabah yang menabung di bank tersebut dengan bunga yang diminta dari peminjam dana dalam hal ini pemohon KPR.

Salah satu perbedaan jelas adalah mengenai sistem cicilan. Bank konvensional menganut sistem bunga floating atau anuitas sedangkan syariah menganut sistem margin (bagi hasil) yang sudah ditentukan diawal kredit sampai dengan selesai. Oleh karena itu cicilan di bank syariah selalu tetap dari mulai cicilan sampai dengan selesai. Sedangkan Pada bank konvensional akan fix periode awal biasanya antara 1 tahun sampai 3 tahun namun setelah melewati masa fix cicilan anda akan naik dan dipengaruhi oleh suku Bunga Bank BI. Jika suku bunga BI mengalami kenaikan maka cicilan anda juga akan ikut naik dan sebaliknya.

Berdasarkan penjelasan diatas (terlepas dari pendekatan nilai agama) masing-masing pilihan memiliki kelemahan dan keunggulannya masing-masing. Bagi anda yang ingin memiliki kepastian besaran cicilan dan terhindar dari resiko melonjaknya cicilan di waktu yang akan datang syariah adalah pilihan. Sedangkan bagi anda yang memililki penghasilan terbatas sehingga membutuhkan tenor yang lebih lama agar bisa mendapat pinjaman yang lebih besar dan juga mendapatkan keringanan cicilan ditahap awal bisa menggunakan bank konvensional.

Besaran cicilan pada bank syariah menggunakan sistem Flat yang artinya besaran cicilan dari awal sampai akhir besarannya sama atau walaupun berbeda besarannya sudah ditentukan dari awal. Sedangkan besaran cicilan pada konvensional menggunakan sistem fix dan floating yang artinya dalam periode tertentu cicilan akan sama namun setelah melewati periode fix maka cicilannya akan floating (menyesuaikan dengan suku bungan Bank BI) yang umumnya besaran ny lebih besar dari fase periode fix. periode fix bank konvensional berbeda-beda ada opsi fix 1 tahun, 2 tahun atau sampai 5 tahun. Setelah periode fix lewat maka cicilan masuk ke skema floating yang besaranya akan dipengaruhi suku bunga BI. pada umumnya cicilan periode floating akan lebih besar di banding saat periode fix. Jika dibandingkan dengan besaran pinjaman yang sama pada umumnya cicilan di bank konvensional pada periode fix akan lebih kecil dibanding syariah. ini disebabkan bahwa nilai perhitungan margin di bank syariah berbeda dengan perhitungan bunga Bank konvensional. Artinya saat margin di Bank Syariah di info sebesar 9% pertahun artinya bukan berarti sama dengan Bunga Bank Konvensional 9% pertahun. Sebagai gambaran saja pada saat artikel ini ditulis rata-rata suku bunga bank konvensional berada pada kisaran 9% sampai dengan 11% sedangkan jika besaran margin syariah yang juga senilai 9% dikonversi ke suku Bunga konvensional berkisar setara dengan 13.5 % dengan bunga bank konvensional. Contoh saat anda mengajukan pinjaman KPR sebesar 500 Juta dan diajukan ke Bank Syariah margin 9% dan Bank Konvensional 9% (fix 3 tahun) keduanya diajukan selama 15 tahun maka skemanya adalah: Bank syariah cicilan 15 tahun dari awal sampai akhir besarannya adalah 6.4 Juta perbulan Bank konvensional cicilan 3 tahun pertama di 5 Jt perbulan setelah fase fix lewat di tahun ke 4 cicilan anda floating estimasi di 13% (di kondisi floating saat artikel ini ditulis) berubah menjadi 6.3 Juta perbulan. Jika hanya berpatokan dengan angka, nasabah syariah memang membayar lebih mahal di awal tapi mendapatkan kepastian namun bagi nasabah bank konvensional bisa menghemat di awal namun bisa jadi cicilannya menjadi lebih besar atau juga lebih kecil dari cicilan bank syariah saat mengalami turbulensi kondisi ekonomi.